Flu pada kucing (Feline Viral Rhinotracheitis)

Etiologi
Penyakit flu pada kucing disebabkan oleh Feline Herpes Virus-1 (FHV-1). Masa inkubasi 2-4 hari namun biasanya 10-14hari.

Penularan
Feline viral rhinotracheitis (flu pada kucing) ditularkan dari kucing yang sakit kepada kucing yang sehat, penularan juga dapat melalui kontak dengan alat-alat, tempat pakan dan minum.
Gejala umum
Gejala yang sering ditimbulkan adalah batuk, demam hingga 41 OC, nafsu makan hilang dan berat badan berkurang, pilek, bersin-bersin, mata merah, bengkak dan berair disertai kerak-kerak pada kelopak mata. Radang kornea juga sering timbul dan menyebabkan kucing lebih senang pada tempat gelap sambil menggosok gosokan mata dengan kakinya. Pada induk kucing hamil terinfeksi akan menyebabkan abortus, tetapi apabila tidak abortus anak kucing menderita radang paru-paru

Perawatan dan pengobatan
Kucing yang terinfeksi oleh Feline Herpes Virus sebaiknya dipisahkan dari kucing yang lain, kurangi stres dan ruangan mempunyai sirkulasi udara yang cukup.
Berikan minum dan makanan yang cukup dan Bersihkan kotoran pada hidung dan mata kucing.
Obat-obatan yang dapat diberikan adalah:
Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi sekunder akibat bakteri
Obat tetes atau salep mata diberikan untuk mengurangi penyakit pada mata
Dekongestan diberikan untuk mengurangi lendir berlebihan pada saluran pernafasan
Pemberian Lysin dapat mengganggu perkembangbiakan (replikasi virus) dan dapat meningkatkan nafsu makan serta mempercepat kesembuhan.

Pencegahan
Pencegahan Feline viral rhinotracheitis dapat dilakukan dengan memberikan vaksin FHV-1. Pada anak kucing Kitten sebaiknya divaksinasi pada umur 6-12 minggu, kemudian diulang pada umur 12minggu, setelah itu baru diulang setiap tahun.
sumber : www.vet-klinik.com

Cara Memilih Kucing Persia Sebagai Indukan

Sebelum kita membeli atau memelihara kucing persia, banyak hal yang harus dipikirkan sebelum mulai untuk membiakan kucing, terutama kucing persia. Keputusan untuk mengawinkan kucing ini harus benar benar dipertimbangkan dengan matang. Tujuan pembiak harus jelas, apakah ingin mendapatkan persia juara (show quality) atau sekedar kualitas biasa (pet quality). Perencanaan lokasi pembiakan juga harus sudah ditetapkan, merawat induk nanti yang bunting dan mengurus anak kucing bukanlah pekerjaan yang gampang. Selain itu harus telaten dan sabar, juga perlu dilakukan dengan rasa kasih sayang dan tanggung jawab.
Ada tiga standar kualitas kucing yang dikategorikan oleh organisasi penggemar kucing. Ketiga standar kualitas ini bisa dijadikan acuan atau panduan dalam memilih dan membeli kucing Persia. Standar kualitas ini didasarkan pada tujuan pemeliharaan kucing itu sendiri.

1. Pet quality
Adalah kucing yang tidak seluruhnya memenuhi standar, baik kesempurnaan genetic, warna, maupun bentuk tubuhnya. Umumnya kucing seperti ini dipelihara hanya sebagai kesenangan.

2. Breed Quality
Berbeda dengan pet quality yang hanya dipelihara untuk kesenangan, kucing breed quality merupakan kucing berkualitas yang bisa dijadikan induk. Kucing breed quality ini kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan pet quality, tetapi lebih rendah daripada show quality.
kucing persia

3. Show Quality
Kucing standar show quality adalah kucing yang sejak kecil telah menunjukkan kualitas terbaik dibandingkan dengan kucing lain, sehingga breeder (cattery) mengkategorikan sebagai sebagai kucing kontes dan menjualnya dengan harga paling mahal.

a. Jenis Kelamin

Sebenarnya pemilihan kucing berdasarkan jenis kelamin sangat tergantung dari keinginan atau minat kita. Perbedaan jenis kelamin kucing mudah diketahui. Jika jarak antara anus dan lubang kelamin agak jauh dan lubang kelamin berbentuk bulat, bisa dipastikan kucing tersebut adalah jantan. Pada betina lubang kelamin tersebut berbentuk memanjang atau membentuk celah.

b. Umur
Pemula disarankan membeli dan memelihara kucing yang masih anakan. Umumnya, anak kucing lebih cepat beradaptasi dibandingkan dengan kucing dewasa. Disamping itu tingkah laku lebih lucu dan menggemaskan, sehingga lebih menyenangkan pemiliknya dalam memahami karakter kucing Persia. Idealnya anak kucing yang dibeli berumur 10-12 minggu, yaitu telah disapih dari induknya dan sudah mandiri.

c. Mencermati kondisi
Sebaiknya menanyakan kondisi kucing pada pembiak tentang kesehatan atau penyakit bawaan. Tanyakan pula kartu vaksinasi. Di cek pula kondisi berat badannya serta kelengkapan organ-organnya

Untuk mendapatkan indukan baik kita harus jeli dalam memilih indukan yang baik seperti :
a. Badan atau Body
Sebaiknya memilih tipe Cobby, yaitu berkaki pendek dan besar, pundak lebar dan kepala melingkar. Dada kucing persia lebar dan dalam. Punggung rata dan lebar dengan tulang yang pendek dan besar. Bahu dan pinggulnya lebarnya sama. Perut berukuran kecil. Otot-ototnya keras dan berkembang dengan baik.

b. Mata
Kucing harus memiliki sepasang mata yang bulat dan besar, terbuka lebar, berwarna cerah dan penglihatannya tajam.

c. Hidung
Hidungnya harus pesek atau pendek, berukuran kecil melebar, dan mendongak ke atas. Di bagian pangkal hidung tampak ada belahan.

d. Telinga
Telinga kucing harus kecil dengan ujung membulat. Jarak antar telinga relatif jauh. Pangkal telinga tidak terlalu terbuka, sedangkan ujungnya melengkung dan menghadap ke bawah.

e. Kepala

Kucing persia memiliki kepala yang berukuran relatif besar atau padat dan melingkar. Struktur tulang wajah atau tengkorak besar, kokoh, dan melingkar. Sementara itu, dagunya bulat, kuat, dan tidak terlalu rendah. Rahangnya besar dan kuat yang ditopang oleh leher yang kuat, pendek, tebal, gigi rapi dan bersih dan under bite tidak lebih dari 2 mm

f. Ekor
Kucing persia memiliki ekor yang pendek, tebal, dan lurus. Ekor yang proposianal atau ideal adalah jika dilipat ke depan dari pangkalnya, ujungnya akan tepat di tengah tengah perutnya. Disamping itu pangkal ekor tidak kaku dan membentuk sudut yang lebih rendah daripada punggungnya.

Selain itu ada beberapa sarat yang harus diperhatikan dalam memilih jenis kucing persia yang dijadikan indukan
a. Surat silsilah
surat silsilah adalah surat yang memuat asal-usul kucing. Pada surat silsilah tersebut dicantumkan data induk jantan dan betina 2-4 generasi. Surat juga harus dilengkapi dengan prestasi yang pernah diraih oleh induk. Surat silsilah berguna untuk menjamin keaslian jenis kucing ras.

b. Surat registrasi dan cat ID
surat registrasi menunjukan bahwa kucing persia bersangkutan berasal dari keturunan murni nenek moyangnya, memiliki silsilah yang jelas, serta sudah didaftarkan oleh pembiak atau breeder. Surat tersebut harus dikeluarkan oleh organisasi cat club yang ada di negara bersangkutan

c. Sertifikat Vaksinasi
Sertifikat ini mengindikasikan bahwa hewan tersebut sudah pernah divaksin untuk mencegah penyakit.

sumber : www.vet-klinik.com

Periode atau Masa Kehamilan Pada Kucing

Setelah selesai dikawinkan, pemilik harus memperhatikan induk kucing, terutama kondisi tubuhnya. Bila terlihat betina bunting maka harus segera mempersiapkan segala sesuatu untuk merawatnya lebih intensif. Hal ini hampir sama dengan seorang ibu yang tengah hamil muda yang sangat riskan bila terkena guncangan sehingga dapat berakibat keguguran. Aktivitas mulai berkurang, kondisi tubuh pun lemah. Namun demikian, induk kucing pun tetap membutuhkan olahraga, seperti jalan-jalan meskipun dalam porsi kecil.
Umumnya, kucing betina mengalami masa bunting sampai kelahiran selama 59-70 hari. Pencatatan dapat dimulai pada hari pertama kucing jantan dan betina “bercampur” yang terjadi 1 hari dan berulang-ulang dalam setiap jam, atau beberapa hari dan berulang dalam setiap harinya sejak hari pertama hingga 7 hari kemudian. Jangan membiarkan pencampuran terjadi kekosongan sampai 3 hari karena akan sulit memprediksi jarak atau waktu kelahiran terlalu lama.

Penanggalan perkembangan fetus pada induk betina sebagai berikut:

1. Minggu I
Lakukan pencatatan hari pertama kucing betina “bercampur” dengan pasangannya. Waktunya 1-7 hari. Pisahkan kucing jantan dan betina setelah selesai perkawinan. Dalam periode ini, kucing betina mengeluarkan Luteinizing Hormon (LH) yang dibutuhkan untuk pematangan sel telur di ovarium, lalu sperma berpindah ke kantung sel telur, hingga sel telur berkembang menjadi blastula kemudian terjadi perkembangan organ-organ penting lainnya.

2. Minggu II-III

Pada saat ini terkadang disertai mual karena terjadi perubahan hormonal atau peregangan dari uterus, lesu, nafsu makan berkurang, dan muntah-muntah. Usahakan frekuensi makan sering diberikan sekalipun dalam porsi sedikit. Dokter hewan dapat memberikan obat agar uterus rileks.
Kucing betina yang sedang bunting memperlihatkan tingkah yang lebih tenang atau malas, sering tidur, nafsu makan turun pada 1-2 minggu pertama, bahkan disertai muntah. Repotnya bila kucing bunting mogok makan atau nafsu makannya turun sampai melahirkan. Tugas breeder untuk menyuapi, bahkan mencekoki pakan agar kucing tetap mendapat gizi yang cukup untuk perkembangan fetusnya.
Kebuntingan minggu ke-2 hingga ke-3 ini, puting susu berubah menjadi pink (merah muda) dan membesar serta bulu di sekitar puting menipis.
Pada usia kebuntingan ini, dapat digunakan pula Ultra Sonografi (USG) untuk mendiagnosa kebuntingan secara dini. Metode yang digunakan dapat berupa metode A-scanning pada usia 18-20 hari post coitus atau metode B-scanning pada usia 18-19 hari post coitus.

3. Minggu IV-VI
Bagi breeder yang berpengalaman atau dokter hewan dapat melakukan palpasi bagian abdomennya karena embrio sudah berkembang seukuran jari. Pemeriksaan dengan mendengarkan suara denyut nadi fetus dan induk pun dapat dilakukan dengan stetoskop. Jumlah anak pun terkadang bisa dihitung dengan USG metode B-scanning pada usia 28-35 hari kebuntingan. Sedangkan untuk mengetahui detail tubuh fetus dengan jelas pada 40 hari kebuntingan.
Pada minggu ke-6, porsi makan sudah dapat ditingkatkan. Berikan pakan bernutrisi yang memadai sesuai dengan kebutuhannya. Upayakan tidak mengganti produk yang telah diberikan sejak awal, sebab dapat berpengaruh pada nafsu makannya. Namun, kendalikan bobotnya jangan sampai terjadi kegemukan. Tambahkan suplemen, seperti multivitamin untuk membantu pertumbuhan fetus.
Pada minggu ke IV-VI, fetus sudah seukuran 25-30cm dan berkembang penuh seperti kucing mini. Perut induk pun mulai membesar. Pembiak harus benar-benar mencurahkan segala perhatiannya untuk kucing. Sebab masa-masa sulit induk selama bunting harus ditemani agar tidak stress, apalagi induk yang pertama kali bunting.

4. Minggu VII-VIII
Pada minggu ini sangat mudah merasakan rabaan dan gerakan anakan di perut induk sehingga tidak sulit untuk menghitungnya. Induk mulai sering menjilati tubuhnya. Puting susu bertambah besar. Induk lebih sering beristirahat dan mulai mencari tempat yang nyaman dan tenang untuk calon anaknya.

5. Minggu IX
Pada saat ini, nafsu makannya berkurang dan perut induk penuh dengan anak kucing. Menu makan dijaga porsinya, dan jangan diberikan dalam dosis berlebihan. Gerakan anak dalam perut sudah mulai terasa. Lantaran perut membesar, terkadang induk mulai sulit menjilati tubuhnya. Bersihkan puting susu dan vagina dengan kain atau kapas yang dibasahi air hangat. Bulu di sekitar putting dapat dicukur.
Seminggu sebelum kelahiran biasanya cairan susu (getah bening) sudah mulai keluar dari puting. Ukur temperatur tubuh selama 12-24 jam, sebelum kelahiran tiba. Idealnya, suhu tubuh 37,5°-38,5°C. Apabila terlihat cairan ketuban mulai pecah, pertanda waktu kelahiran sudah tiba. Apalagi induk mulai kontraksi atau merejan, gelagat,dan kegelisahan tampak nyata. Persalinan dapat terjadi pada hari ke 59-70. namun, bila terjadi sebelum 58 hari, fetus sangat muda dan susah dipertahankan.

sumber : www.vet-klinik.com

Persiapan ketika Kucing akan Melahirkan

Ketika waktu melahirkan sudah dekat, kucing betina akan membaringkan dirinya, lalu mengatur nafasnya dan mulai mengejan. Air ketuban akan keluar disertai dengan sedikit darah dan disusul dengan kelahiran sang bayi yang beriring dengan ari-arinya. Setelah bayi kucing keluar, kita harus memperhatikan apakah sang induk care kepada anaknya. Care diartikan sang induk mau membersihkan anaknya, memotong tali pusarnya, dan mau menyusuinya. Jika tidak, kita sebagai pemilik harus turun tangan untuk membantunya. Caranya, setelah bayi kucing keluar, tetapi induknya tidak mau membuka selaputnya, maka kita yang harus membuka selaput dengan gunting disela-sela tangan atau kaki, lalu gunting tali pusarnya sepanjang 3-5 cm.



Setelah itu, bayi kucing kita ambil dan dilap dengan handuk yang lembut. Posisi memegang bayi kucing harus sangat hati-hati. Posisi kepalanya harus dibawah dan dalam posisi telungkup. Setelah agak kering, bayi kucing didekatkan kepada induknya agar induknya agar induknya dapat menyusui dan membersihkannya. Proses melahirkan ini biasanya berlangsung selama tiga jam, bahkan bisa lebih, maka kita sebagai pemilik harus sabar untuk menunggu kucing kesayangan kita. Jarak kelahiran bayi kucing yang pertama, kedua, dan seterusnya berbeda-beda. Ada yang 15 menit, 30 menit, bahkan ada yang satu jam.

Tanda pasti bahwa sebentar lagi kucing kita akan melahirkan adalah air ketubannya pecah dan mengalir seperti air kencing. Jika keadaannya sudah seperti itu, yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan beberapa peralatan yang dibutuhkan sebagai berikut :
  1. Gunting kecil untuk memotong tali pusar. Gunting ini harus tajam dan tidak berkarat.
  2. Pinset untuk menjepit tali pusar sebelum proses pengguntingan. Jika tidak ada pinset, sebelum dipotong tali pusar dikaitkan.
  3. Handuk atau lap untuk membersihkan bayi kucing yang baru lahir, terutama jika induk tidak mau menjilatinya. Hal yang harus diperhatikan oleh pemilik yaitu Fungsi handuk atau lap tidak bisa digantikan tisu karena tisu justru bisa menempel di tubuh bayi kucing tersebut.
  4. Obat-obatan seperti alkohol dan cairan antiseptik (obat luka) untuk membersihkan bekas potongan tali pusar agar bayi kucing tidak terkena infeksi.
sumber : www.vet-klinik.com

    Program Vaksinasi Pada Kucing

     sumber : www.vet-klinik.com

    Vaksinasi adalah proses menumbuhkan dan mengembangkan sistem pertahanan tubuh, dengan tujuan individu yang telah dilakukan vaksinasi terhindar dari terjangkitnya penyakit infeksi, hingga tidak timbulnya gejala sakit, atau untuk membatasi proses infeksi oleh agen infeksi patogen. Pada prakteknya program vaksinasi dilakukan untuk melindungi hewan terhadap penyakit yang khusus disebabkan oleh mikroorganisme, seperti: bakteri dan virus. Terhadap agen infeksius lain, misalnya parasit, untuk pencegahan secara vaksinasi masih dalam pengembangan untuk bisa menjadi efektif.

    Vaksin dapat melindungi tubuh individu terhadap agen infeksi yang patogen secara primer, dengan membentuk antibodi, selain itu secara sekunder membentuk sistem cellular Mediated immunity (CMI) dan mendorong pembentukan antibodi lokal. Vaksin seperti itu, mampu mencegah timbulnya gejala, tetapi tidak mampu mencegah re-infeksi ditunjukkan oleh vaksin distemper, ICH, dan panleukopenia. Vaksin yang hanya mampu mencegah gejala tanpa mampu mencegah terjadinya reinfeksi, ditunjukkan pada vaksin FVR (Feline Viral Rhinotracheitis). Vaksin tersebut hanya mampu mengatifkan kekebalan sellular dan mendorong pembentukkan antibodi lokal, hingga dapat berperan mencegah terjadinya infeksi.

    Hambatan Vaksinasi Pada Kucing

    Bermacam faktor berperan dalam penentuan keberhasilan suatu program vaksinasi. Faktor-faktor tersebut meliputi peran antibodi maternal, jenis vaksin, aplikasi vaksinasi, umur hewan, kondisi hewan saat vaksinasi, dan ada tidaknya penyakit lain saat vaksinasi.

    A. Peran antibodi maternal

    Antibodi yang dimiliki anak kucing berasal dari perolehan saat fetus dalam kandungan atau perolehan melalui kolostrum. Berdasarkan anatomi plasenta yang dimiliki kucing, dapat menjadi analisis bahwa 95% immunoglobulin telah diwariskan pada anak dibandingkan 100% yang dimiliki oleh induk. Dengan demikian anak kucing yang lahir dengan tidak mendapat kolostrum masih dapat bertahan terhadap infeksi dalam beberapa waktu, mengingat bahwa anak kucing mengandung 95% immunoglobulin. Bila immunitas yang diterima dalam kandungan dan ditambah dengan immunitas yang diperoleh melalui kolostrum, maka anak yang dilahirkan tersebut dalam beberapa hari memiliki maternal immunity. Sistem immunitas yang terbentuk seperti diatas disebut juga immunitas pasif. Immunitas yang berbentuk immunoglobulin tersebut mampu bertahan 14-16 minggu. Pada beberapa minggu terakhir dari waktu yang telah disebutkan jumlah zat kebal sudah demikian rendah hingga anak kucing rentan terhadap infeksi. Penurunan zat kebal menurun karena pertambahan berat badan anak. Apabila pada umur 6-8 minggu anak kucing divaksin, mereka sudah mampu membentuk zat kebalnya secara aktif (Soebronto, 2006; Day, 2003; Viner, 1998).

    B. Jenis vaksin yang digunakan

    1. Vaksin yang dipersiapkan adalah antigen, baik itu virus maupun bakteri yang dilemahkan, melalui berbagai cara, antara lain dengan mempasasekan berulang kali pada hewan coba, sehingga memiliki sifat-sifat seperti berikut.

    • vaksin hanya mengandung relatif kecil antigen. Antigen yang masih hidup tersebut di diharapkan mampu memperbanyak diri didalam tubuh individu yang diinjeksi hingga menstimulasi pembentukkan antibodi.
    • Kesalahan dalam menyimpan atau memindahkan tempat akan dapat membunuh virus amupun bakteri. Perubahan suhu yang terlalu mendadak dan tinggi, sinar matahari dan ultraviolet, atau radiasi, dapat mematikan virus atau bakteri, atau dapat menurunkan potensi vaksin.
    • Vaksin mampu menghasilkan kekebalan yang lebih tinggi titernya dan lebih lama tinggal didalam tubuh.

    2. Vaksin yang dipersiapkan dari organisme yang diinaktifkan atau dimatikan melalui berbagai cara, misalnya dipanaskan, atau ditambah bahan kimia, contohnya formalin. Jumlah organisme, virus atau bakteri, yang diinaktifkan jauh lebih banyak dibandingkan yang dilemahkan. Dengan matinya organisme, organisme tersebut akan terurai menjadi komponen-komponen penyusunnya. Vaksin yang dihasilkan dikenal sebagai vaksin inaktif atau “killed vaccine”, memiliki sifat-sifat berikut. Vaksin yang dipersiapkan untuk bakteri yang diinaktifkan dikenal sebagai bakterin.

    a. vaksin yang menggandung masa antigenik yang besar jumlahnya.
    b. Vaksin menstimulasi pembentukkan antibodi dari individu yang divaksin.

    Untuk perpanjangan immunitas, dan mengurangi jumlah organisme yang digunakan, vaksin inaktif dapat ditambah dengan adjuvant, hingga individu yang diinjeksi dapat membentuk antibodi yang lebih lama, dengan demikian frekuensi penyuntikkan dapat dengan mudah dikurangi. Ajuvant yang digunakan mungkin dapat berupa aluminium hidroksida, aluminium fosfat untuk mengadsorpsi antigen pelarut atau lanolin untuk mengemulsikan antigen, maupun β-propiolakton (Soebronto).

    C. Cara atau aplikasi penggunaan vaksin

    Kegagalan vaksinasi karena cara pemberian vaksin karena tidak mengikuti petunjuk penggunaan. Berdasarkan penggunaan pemakaian vaksin, vaksin campak (measles vaccine) harus diinjeksikan secara intramuscullar (IM). Vaksin distemper, ICH, panleukopenia, dapat disuntikkan secara intramuscullar ataupun subkutan (SC). Selanjutnya vaksin campak (measles vaccine) yang dikombinasikan dengan vaksin distemper harus diinjeksikan secara intramuscullar (IM), dan vaksin panleukopenia dan MLV-IN, dan feline calici viral disease MLV-IN hanya diberikan secara aerosol langsung kepada mucosa pernafasan (inhalasi).

    D. Umur individu yang divaksin
    Anak kucing yang terlalu muda, kurang dari 6 minggu belum siap membentuk antibodi dengan baik. Penyuntikkan dengan vaksin live modified dapat mengakibatkan blocking, hingga anak kucing dengan mudah dapat terinfeksi agen infectious dari lingkungan, atau oleh virus yang disuntikkan 2-3 minggu kemudian.
    Kucing yang mengalami hipotermia bila divaksin tidak membuahkan hasil, karena untuk untuk stimulasi pembentukkan CMI suhu optimalnya adalah 38-39oC.
    Kucing tua, lebih dari 4 tahun, sudah tidak begitu responsif terhadap pembentukkan antibodi maupun CMI, hingga perlu diberikan booster tahunan. Banyak pemilik atau profesional yang menganggap karena hewan telah tua dan telah divaksin berulang-ulang dianggap sudah kebal sepenuhnya, hingga vaksinasi terhadap kucing dianggap tidak lagi penting.

    E. Kondisi tubuh hewan saat divaksin

    Hewan yang kurus biasanya tidak cukup baik untuk divaksin. Dalam keadaan demikian, atau kondisi dimana vaksinasi diulang sebelum waktunya, atau apabiala kondisi hewan sudah normal, baru divaksin ulang. Sebaliknya hewan yang mengalami obesitas, dan secara laboratorik tidak ditemukan kelainan, juga kurang baik untuk dilakukan vaksinasi.

    Tabel 1. Anjuran atau pegangan dalam melakukan vaksinasi pada kucing


    NO
    Penyakit
    Tipe vaksin
    Vaksinasi 1 (minggu)
    Vaksinasi 2 (minggu)
    Ulangan
    Cara Vaksinasi
    1.
    Inaktif
    8
    12
    Tahunan
    SC/IM


    MLV
    8
    12
    Tahunan
    SC/IM


    MLV-IN
    8
    12
    Tahunan
    IN
    2.
    MLV
    8 (atau <)
    12
    Tahunan
    IM


    MLV-IN
    8
    -
    Tahunan
    IN
    3.
    MLV
    8 (atau <)
    12
    Tahunan
    IM


    MLV-IN
    8
    -
    Tahunan
    IN
    4.
    Inaktif
    12
    -
    Tahunan
    IM


    MLV
    12
    -
    Tahunan
    IM
    5.
    Pneumonitis
    MLV
    8
    -
    Tahunan
      SC/IM

    Ctenocephalides felis pada Kucing

    Ctenocephalides felis merupakan kutu sering ditemukan pada kucing kesayangan kita, yang mempunyai ciri ciri antara lain:
    a. Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar
    b. Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras
    c. Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala
    d. Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk
    e. Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago)
    f. Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas.
    g. Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan
    h. Memiliki 2 ktinidia baik genal maupun pronatal
    Beda jantan dan betina:
    jantan: tubuh punya ujung posterior seperti tombak yang mengarah ke atas, antena lebih panjang dari betina.
    betina : tubuh berakhir bulat, antena lebih pendek dari jantan.
    Ctenocephalides felis jantan
     Ctenocephalides felis jantan
      
    Ctenocephalides felis
    Ctenocephalides felis betina

    Siklus hidup:
    Telur akan menetas 2-10 hari menjadi larva yang makan darah kering (yang dikeluarkan pinjal dewasa), feses, bahan organik lainnya. Larva juga membuat pupa dengan menyilih 2 kali. Stadium larva berlangsung 1-24 minggu. Pupa dapat hidup selama 1 minggu sampai 1 tahun tergantung faktor lingkungan.
    Pinjal ini dapat sebagai hospes intermedier dari Dypillidium caninum, dan menyebabkan gatal dan iritasi pada tubuh hospes (kucing).
    siklus hidup Ctenocephalides felis
    siklus hidup Ctenocephalides felis 
    Gejala klinis
    Gejala yang sering nampak dari gigitan Ctenocephalides felis adalah rasa gatal atau dalam dunia veteriner sering disebut dengan allergic fleabite dermatitis.
    Ctenocephalides felis diantara bulu
    Ctenocephalides felis diantara bulu 

    Diagnosis
    Diagnosis Ctenocephalides felis pada kucing dapat dilakukan dengan melihat adanya kotoran seperti butiran pasir diantara bulu kucing, dan biasanya Ctenocephalides felis dapat ditemukan pada daerah yang berbulu lebat seperti pada bagian leher.
    Pencegahan:
    • Karena larva dapat hidup pada daerah pembaringan hospes maka kebersihan dan sanitasi lingkungan harus dijaga.
    • Menghindari kontak langsung dengan hewan/tempat-tempat yang ada pinjal.

    Pengobatan:
    Dichlorvos, pyretrum 10%, Malation 5%, Triclorfon 2,5%, Coumaphos 0,5%, Carbaryl.

    sumber : www.vet-klinik.com

    Metode Perkawinan Kucing Persia

    Pemilik kucing persia harus mengetahui dan selalu mengontrol karakter dan keadaan kucingnya apalagi ketika kucing tersebut sedang birahi, hal ini dilakukan untuk menghindari perkawinan inbreeding dan dapat menangani perkawinan secara benar.
    • Masa birahi
    Kucing betina pertama kali birahi saat berumur 7-8 bulan atau 10-11 bulan dimana berlangsung selama 7-10 hari, dan siklus birahi akan berulang setelah 1,2-3 bulan. Tanda kucing betina birahi antara lain suara menjadi berat dan keras, suka berguling- guling, agresif, dan nafsu makan menurun.
    Kucing betina sebaiknya tidak dikawinkan sebelum berumur 1 tahun dengan berat minimum 6 pound (sekitar 2,7 kilo). Pemilik perlu memperhatikan timbulnya pyometra sehingga menyebabkan penundaan breeding sampai beberapa kali.
    Pyometra adalah infeksi uterus karena penumpukan hormone progesterone, dan berakibat adanya penebalan dinding uterus dan berpotensi tumbuhnya bakteri, dan jika terjadi pyometra maka harus diambil uterusnya agar tidak terjadi kematian.
    Pemilik kucing harus selalu memperhatikan kesehatan kucing persia miliknya karena ini merupakan prioritas utama sebelum memutuskan untuk re-breeding. Kucing betina yang dalam masa menyusui dan membesarkan anak-anaknya sebelum anaknya lepas sapih (umur 3 bulan) jangan dikawinkan terlebih dahulu. Formula minimum untuk periode re-breeding adalah 3bulan + perbulan dari jumlah anak yang dilahirkan dan disusui.
    Masa birahi kucing jantan berbeda-beda, tetapi biasanya terjadi pada umur satu tahun atau lebih. Tanda kucing jantan birahi yaitu suara mulai keras, suka mengeong, dan kalau melihat kucing betina ingin cepat menaikinya.
    • Pemeriksaan sebelum perkawinan
    Dilakukan pemeriksaan terutama pada kucing betina, yaitu :
    ü Vaksinasi
    Tujuan vaksinasi adalah agar anak yang dilahirkan bisa memperoleh nutrisi yang baik dari induk yang bebas penyakit, sehingga anaknya bisa gemuk dan sehat.
    ü Pemberian obat cacing
    Tujuannya adalah agar anak kucing yang dilahirkan tidak cacingan.
    ü Kondisi kesehatan
    Sebelum dikawinkan kucing betina harus dipastikan dalam keadaan sehat, tidak kurus, kulit dan bulu tidak bermasalah. Tujuannya agar proses perkawianan lancer, proses persalinan lancar, dan anak yang dilahirkan tidak mengalami masalah akibat tertular penyakit dari induknya.
    Kucing jantan hanya diperiksa seperti biasanya (general checkup).
    • Proses perkawinan
    Cara mengawinkan kucing Persia :
    ü Kucing jantan dan betina didekatkan tetapi tidak dalam satu kandang. Proses ini sebagai pengenalan dan penentuan proses selanjutnya. Jika berjalan lancar maka membutuhkan waktu antara 1-2 hari.
    ü Proses perkawinan dapat dilangsungkan dan biasanya berjalan secara alami. Pejantan akan mendekati betina, menciumi kemaluan betina, mulai menaiki sambil menggigit tengkuk betina, dan berlangsunglah perkawinan. Saat berlangsung penetrasi, biasanya betina mengerang keras lalu berguling dan sambil menjilati kemaluannya.
    ü Ada kalanya betina sulit dikawini pejantan karena salah posisi (miring, terlentang, pinggul tidak diangkat). Jika hal ini terjadi maka kita dapat membantunya dengan memegang betina pada posisi yang benar. Keberhasilan proses ini tergantung pada kemauan, kemampuan, pengalaman, dan kesabaran pejantan menghadapi betina.
    Proses kedua dan ketiga akan berlangsung 2-7 hari dan setelah itu pejantan dan betina bisa dipisahkan.
    Sebaiknya mating dilakukan 3-4 kali per hari dalam jangka waktu 2-3 hari berturutan, setelah itu pisahkan pejantan dan betinanya sampai kita yakin terjadinya kehamilan. Bila proses kehamilan gagal biasanya betina akan mengalami estrus lagi. Sebaiknya proses perkawinan juga diawasi, paling tidak kita menyaksikan bahwa proses tersebut berhasil yang ditandai dengan betina yang berguling-guling dan marah bila didekati oleh pejantannya.
    Tidak seperti breeding pada anjing, telur kucing akan dijatuhkan setelah proses breeding terjadi, dan semuanya dijatuhkan sekaligus. Oleh karena itu betina akan berguling-guling dalam rangka menjatuhkan telurnya agar bisa bertemu dengan sperma yang ditinggalkan pejantannya.
    Biasanya (tidak selalu) dalam 24 jam atau 48 jam setelah proses matting, betina akan berhenti memberikan tanda2 birahinya (berteriak2, berguling-guling, merintih2). Ini menandakan bahwa proses pembuahan telah terjadi. Dan kemudian dalam hari ke 21 sudah bisa di cek apakah puting susunya membesar dan berubah warna menjadi pink. Pada beberapa kucing Persia, perubahan bisa saja terjadi pada 1 bulan pertama atau bahkan pada minggu ke 6.
    Kadang-kadang antara hari ke 21-28, betina menunjukkan gejala2 heat lagi yang terjadi karena perubahan hormonal. Atau juga terjadi pada minggu ke 6 dimana dia mulai merasakan pergerakan anak didalam perutnya. Pada masa ini, biasanya dia akan mencari tempat untuk sembunyi untuk melahirkan. Pastikan bahwa tersedia tempat yang tenang dari gangguan kucing lain sebelum proses kelahiran terjadi.
    Kucing betina biasanya mengalami masa kehamilan antara 59-68 hari. Untuk mempermudah perhitungan, kita bisa mengambil angka rata2 63-65 hari dihitung dari hari pertama kita mulai mengawinkan (asumsi terjadi pembuahan pada hari pertama). Gunakan calendar untuk menandai masa kawin dan kemungkinan masa kelahiran. Hal sangat penting bagi kita sebagai pemilik untuk mengevaluasi kondisi kehamilan terutama menjelang minggu-minggu terakhir. Diskusikan perkembangan dengan dokter hewan untuk memastikan kesehatannya.
    sumber : www.vet-klinik.com